Purbalingga Bersiap Jadi Sentra Kerajinan Batu Klawing

Melejitnya pamor batu Klawing asal Purbalingga di pasar kerajinan batu mulia dunia, mendorong pemkab Purbalingga segera membenahi bisnis kerajinan batu Klawing. Langkah pertama dengan menghimpun seluruh unsur pelaku bisnis batu Klawing ke dalam  Paguyuban Batu Klawing Purbalingga. Paguyuban yang diketuai Bejo Cahyono, dikukuhkan Sabtu malam (8/11) oleh Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto.

“Tahun 2015 nanti, Bappeda tolong dianggarkan untuk pelatihan. Saya ingin di Purbalingga ada sentra kerajinan batu Klawing. Entah kapan itu terwujud, tapi kita siapkan dari sekarang,” ujar Bupati Sukento usai mengukuhkan kepengurusan Paguyuban Batu Klawing Purbalingga di Pendapa Dipokusumo.

Bupati yang kini menjadi kolektor batu akik Klawing, memiliki mimpi agar Purbalingga dapat menjadi pusat penjualan batu seperti di kawasan antara Bangkok dan Pataya di Thailand. Di kawasan itu kini menjadi tempat penjualan batu yang luar biasa besarnya, yang tiap hari didatangi pecinta batu dari berbagai dunia. Bukan hanya banyak yang datang, tapi juga banyak yang membeli.

“Atau setidaknya seperti sentra batu yang ada di Kalimantan tepatnya di Martapura. Disini nilai jual kerajinan batu juga sangat tinggi. Saya ingin batu Klawing kita harganya juga melejit seperti harga batu akik jenis lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Bupati sempat kecewa dengan potensi batu akik Klawing yang hanya dihargai Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu saja. Padahal mutu batu Klawing sudah diapresiasi ditingkat internasional. Dimana salah satu hasil kerajinan batu Klawing dari perajin Purbalingga mendapatkan pengakuan internasional, dengan menjuarai kontes batu mulia tingkat ASEAN, di Jakarta.

“Mestinya nilai jual batu akik Klawing bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 50 juta,  bahkan bisa lebih tinggi dari itu. PR kita (pekerjaan rumah-red), adalah memperbanyak pelatihan agar produksinya makin baik dan membuat sertifikat untuk hasil kerajinan batu akik kita,” tandasnya.

Bupati mengajak para pengurus paguyuban dan anggotanya, tidak berhenti usai dikukuhkan. Namun harus dilanjutkan dengan kerja, kerja dan kerja, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kerajinan batu akik Klawing.

“Saya minta semua mendukung. Jangan berantem. Saya sudah meminta jajaran pimpinan SKPD dan anggota DPRD untuk membeli dan menggunakan batu akik Purbalingga,” katanya, disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh pecinta batu Klawing yang hadir di tempat itu.

Pembentukan Paguyuban Batu Klawing Purbalingga, diawali dengan pemilihan ketua, sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya di aula kecamatan Bobotsari. Pemilihan dilakukan secara tertutup, bersamaan dengan sesi pengisian absensi. Para anggota paguyuban diminta memilih salah satu dari lima calon ketua yakni Bayu Satrio Wibowo mendapat 43 suara, Nurul Amin (25), Bejo Cahyono (53), Seno Bayumurti (6) dan Wasis Pracoyo (1).

“Bejo Cahyono berhasil terpilih menjadi ketua paguyuban. Sedangkan calon lainnya disepakati untuk posisi wakil ketua 1,2 dan 3 serta sekretaris. Posisi bendahara dipercayakan kepada Hafis,” jelas Ismuhadi, salah seorang seksi Humas Paguyuban.

Bupati Purbalingga sendiri, lanjut Ismuhadi, menjadi pelindung paguyuban bersama Komandan Kodim 0702 Purbalingga Letkol Inf Agustinus Sinaga. Sedangkan para penasehat dari berbagai SKPD terkait seperti Kepala Bappeda, Kepala Dinperindagkop, Kepala Dibudparpora, Kepala DPU, Ketua Balai Besar Serayu OPAK dan sejumlah tokoh masyarakat seperti H Barosad, M Faturahman, Yani Sutrisno, dr Siswandi dan H Hartono. Pengurus yang dikukuhkan dilengkapi sejumlah seksi.

Pada kesempatan itu, Bupati Sukento dan Dandim Letkol Inf Agustinus Sinaga, mendapatkan souvenir cincin batu Klawing dari pengurus paguyuban.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. semoga sukses Purbalingga…

  2. budi nedyo berkata:

    mohon berkenan survey ke Dusun Buret Desa Tanalum Kecamatan Rembang… disana sudah terjadi penjualan batu pancawarna dan nagasui ratusan kuintal batu dengan harga kisaran 5.000,- per kilogramnya.
    Gegap gempitanya batu klawing jangan sampai merusak sistem konservasi alam di Kecamatan Rembang dan janganlah dijual murah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *