Museum Usman Janatin Jadi Wahana Wisata Pendidikan

Setelah namanya diabadikan dalam sebuah komplek taman kota Usman Janatin City Park, kini di desa kelahirannya, Jatisaba kecamatan Purbalingga, berdiri  Museum Usman Janatin. Bangunan yang berada di sekitar rumah pahlawan nasional Sersan KKO Usman Janatin itu, diresmikan penggunaanya, Sabtu (7/3).

“Museum Usman Janatin merupakan wujud penghargaan kita selaku bangsa Indonesia dan masyarakat Purbalingga pada khususnya terhadap perjuangan beliau,” ungkap Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Lanud Wirasaba, Letkol (Pnb) Andreas Dhewo.

Menurut Dhewo, atas dasar kepedulian itulah, jajaran Lanud Wirasaba tergerak untuk menyelesaikan pembangunan museum yang sempat terhenti karena ketiadaan dana dari pihak keluarga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Imam Subijakto saat meresmikan museum itu mewakili Bupati menuturkan, keberadaan Museum Usman Janatin menambah jumlah museum yang ada di kabupaten Purbalingga. Setelah sebelumnya telah ada Museum Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman di Kecamatan Rembang, Museum Uang dan Museum Wayang yang ada di komplek obyek wisata Sanggaluri Park.

“Museum ini dapat dikembangkan sebagai wisata pendidikan. Dimana didalamnya terdapat fakta sejarah perjuangan peninggalan Usman Janatin yang harus diketahui oleh generasi muda Purbalingga,” katanya.

Dikatakan Imam, nilai-nilai patriotisme yang ditinggalkan Usman Janatin perlu diteladani seluruh masyarakat Purbalingga, sebagai penghargaan atas pengorbananya kebada bangsa dan Negara.

Sementara, Kepala Seksi Sejarah Museum dan Kepurbakalaan pada Bidang Pariwisata Dinbudparpora Purbalingga, Rien Anggraeni mengaku telah mengupayakan bantuan fasilitasi museum Usman Janatin kepada pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurut dia, Bappeda provinsi telah berkomitmen pada tahun anggaran 2016 dapat melengkapi fasilitas buku-buku sejarah dan lainnya.

“Nanti kami juga akan membuat surat kepada sekolah agar dapat memanfaatkan museum Usman Janatin sebagai lokasi wisata pendidikan yang harus dikunjungi para siswa,” jelasnya.

Saat ini, didalam museum itu baru dipajang foto dan berbagai peninggalan Usman Janatin termasuk berbagai penghargaan, surat-surat, baju-baju seragam dan radio transistor miliknya. Selain itu juga terdapat berbagai atribut kepangkatan TNI dan buku-buku tentang TNI.

Usman Janatin bin H Moch Ali, lahir 1943 di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga pada 18 Maret. Anak kesepuluh dari 11 bersaudara pasangan H Moch Ali Hasan dan Rukiyah itu bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI-kini TNI AL) setelah melalui pendidikan  militer yang digelar Korps Komando Operasi Angkatan Laut di Malang pada 1962.

Usai menjalani pendidikan militer, Usman lalu ditugaskan kesatuannya melakukan penyusupan Singapura dalam mengemban tugas Dwikora. Saat itu, pemerintah Presiden RI Soekarno tengah melancarkan perang dengan negara jiran Malaysia.

Dalam berbagai literatur disebutkan, pada 1964 Presiden Soekarno mengumumkan perang terhadap Malaysia dan dikenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia’. Soekarno geram terhadap rencana Federasi Malayasia atau Persekutuan Tanah Melayu menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord.

Pada 8 Maret 1965, Usman dan dua rekannya sesama anggota KKO disusupkan ke Singapura melalui jalur laut. Bersama dua rekannya, termasuk Harun, Usman berhasil  meledakkan obyek vital di Singapura untuk membuat kepanikan warganya. Upayanya kembali ke Indonesia gagal karena Usman dan Harun tertangkap oleh patroli laut setelah motorboat yang dikemudikannya kehabiasan bahan bakar.

Dua anggota KKO itu sempat dikurung di penjara Changi selama 3,5 tahun. Pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman mati kepada kedua prajurit itu. Upaya pemerintah Presiden Soeharto meminta ampunan bagi kedua tentaranya tidak membuahkan hasil. Usman dan Harun menemui ajalnya  di tiang gantungan di penjara itu pada 17 Okteber 1968.

Gugur dalam tugas negara, pemerintahan Soeharto menganugerahi gelar pahlawan bagi Usman Janatin dan Harun. Keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Pada Desember 2014 lalu, TNI AL juga  mengabadikan nama Usman Harun untuk sebuah Kapal Perang Republik Indonesia dengan nama KRI Usman Harun -359.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Asmaul Husna berkata:

    Semoga bisa jadi terkenal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *