PURBALINGGA – Dari kapasitas suplai pasokan listrik ke Purbalingga 180 Mega Watt (MW), saat ini baru terpakai  50 MW atau sekitar 30 persen. Pasokan listrik masih melimpah dan siap mendukung pembangunan investasi di Purbalingga.

“Listrik ini menjadi barometer pertumbuhan industri dan investasi serta pembangunan. PLN siap memasok listrik untuk mendukung pembangunan di Purbalingga,” kata Manajer Unit Pelaksana Pelayanan pelanggan (UP3) PT PLN  (Perusahaan Listrik Negara)  Persero Purwokerto, Armunanto.  

Armunanto yang didampingi Manajer ULP PT PLN Purbalingga Maolana serta jajaran staf, melakukan audiensi dengan Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, SE, B.Econ, MM di ruang kerja Bupati, Selasa (17/9).

Armunanto mengatakan, pertumbuhan pemakaian listrik di Purbalingga tumbuh tujuh persen, artinya dari sisi industri Kabupaten Purbalingga menjadi barometer bisnis. “Purbalingga menjadi tulang punggung industri. Dibanding Wonosobo, dan Banjarnegara serta Banyumas, Purbalingga dinilai industrinya bagus, dan dari sisi kebutuhan listrik juga bagus. Kalau Purwokerto, industrinya baru melirik ke garmen. Sementara di Wonosobo dan Banjarnegara dalam dua tahun terakhir cenderung stagnan,” kata Armunanto.

Armunanto menegaskan, dengan kondisi pasokan listrik yang masih mencukupi, pihaknya siap mendukung pembangunan industri dengan membangun jaringan listrik di lokasi calon industri. “Untuk Bandara Jenderal Besar Soedirman juga sudah kami siapkan pasokan listriknya sebanyak 22.000 VA, kami membangun dua feeder untuk pasokan listri di bandara,” kata Armunanto sembari menambahkan pasokan listrik ke Purbalingga berasal dari Cilacap dan dari Mrica Banjarnegara.

Sementara itu Maolana menambahkan, PLN memiliki topologi main feeder untuk pasokan listrik, terutama di kawasan industri yang ditetapkan seperti di wilayah Kemangkon. Hal ini akan lebih efektif karena gardu pasokan listrik Purbalingga berada di wilayah Kemangkon. 

“Sejumlah industri di Purbalingga seperti PT Boyang Industrial sudah menjadi pelanggan listrik premium. Artinya pelanggan yang mendapat pelayanan istimewa dari PLN dan tidak mendapatkan pemadaman listrik saat PLN dalam kondisi krisis daya sekalipun. Untuk menjadi pelanggan premium tentunya PLN menerapkan tarif berbeda, dan dihitung akan lebih murah jika menggunakan genset diesel saat listri PLN padam,” kata Maolana.

Dalam waktu dekat, lanjut Maolana, pihaknya juga akan menyalakan pelanggan premium untuk pabrik kayu SN Jaya, kemudian pabrik kayu Karya Bakti Manunggal, dan diharapkan perusahaan besar lain untuk menjadi pelanggan premium. “Pelanggan premium seperti PT Boyang, dalam tiga bulan setelah berlanggan premium tidak pernah mengalami listri padam,” katanya.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan, pihaknya berharap PLN dan Pemkab Purbalingga saling bersinergi untuk pengembangan kawasan industri yang didukung dengan listrik dan pasokan kebutuhan lain seperti air dan infrastruktur jalan. (y)