Bupati Minta, Masyarakat Jauhi Narkoba

Semakin maraknya peredaran serta penyalagunaan narkoba dengan berbagai modus, membuat keprihatinan banyak pihak. Salah satu modusnya adalah dengan menyusupkan barang berbahaya tersebut kedalam makanan/jajan yang dikonsumsi oleh anak-anak disekolah.

“Saat ini modus yang dilakukan oleh para pengedar narkoba, untuk merusak generasi muda sudah sangat membahayakan. Dengan berbagai cara, salah satunya melalui jajanan yang biasa dikonsumsi oleh anak – anak kita disekolah sudah mulai ditemukan pihak BNN dan kepolisian,”tutur Bupati Purbalingga, Sukento Rido Marhaendrianto, saat acara Safari Pembangunan Perdesaan di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga, Jum’at malam (24/10).

Bupati Kento mengingatkan, agar orang tua untuk tetap selalu waspada, serta selalu menjaga putar-putrinya, baik selam bergaul di sekolah, maupun ketika di lingkungan rumahnya.

“Narkoba itu barang yang tidak enak, tapi bisa membuat para pemakainya menjadi kecanduan, serta untuk mengecoh para generasi muda kita, oleh para pengedar disisipkan pada jajan anak bentuknya menyerupai permen. Orang tua perlu untuk berhati-hati, jangan sampai nanti kecolongan, untuk itu saya minta jaga putra-putrinya dengan baik. Kalau sampai lengah, nanti tahu-tahu putra-putri ibu, pulang kerumah sudah dalam keadaangeleng-geleng/tidak sadarkan diri,”katanya.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Purbalingga Kompol Edi Santosa, meminta kepada masyarakat, khusunya para orang tua supaya waspada, serta anak-anaknya jangan sampai mengenal narkoba.Akibat dari penyalagunaan narkoba, jumlah pecandu, selain mengalami ketergantungan, jumlah korban jiwa setiap tahunnya juga semakin meningkat.

Akibat, atau dampak dari penyalagunaan narkoba ini sangat luar biasa, baik pecandu, maupun yang mengalami korban jiwa, jumlahnya semakin bertambah. Ada sekitar 50 orang meninggal setiap hari, akibat penggunaan narkoba.Sehingga dalam satu tahun, ada sekitar 18.000 orang meninggal sia-sia, ,”jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan BNN, jumlah pecandu narkoba di Indonesia  pada tahun 2013 mencapai  4,2 juta orang, dan pada tahun 2014 jumlahnya  4,7 juta pecandu.Sedangkan kemampuan pemerintah merehabilitasi hanya 18.000 orang saja.

“Untuk merehabilitasi jumlah keseluruhan yang mencapai  4,7 juta pecandu, dibutuhkan waktu sekitar 245 tahun, ini sangat memprihatinkan sekali. Begitu juga di Purbalingga, tempat untuk merehab para pecandu, masih sangat terbatas jumlahnya,”tuturnya.

Edi meminta, agar seluruh lapisan masyarakat, para orang tua menjadi garda terdepan, serta berperan dalam pencegahan dan penyalagunaan narkoba dikalangan masyarakat, khusunya generasi muda. Tanpa peran serta masyarakat, pihaknya tidak dapat berbuat banyak, karena narkoba bukan hanya milki kalangan tertentu saja, akan tetapi sudah merasuki lingkungan, serta tempat terpencil juga menjadi sasaran penyalagunaan barang haram tersebut.

“Pemerintah bertanggung jawab dalam  penanggulangan, serta pencegahan narkotika, sedangkan dalam Undang Undang (UU)  Nomor  35 Tahun 2009 penanganan ini dilaksanakan oleh BNN, namun dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor  11 Tahun 2012, semua lapisan masyarakat ikut bertanggung jawab Karena ini bukan hanya tanggung jawab bupati, kapolres, ataupun BNN saja, akan tetapi seluruh lapisan masayarkat, termasuk  kepala desa, orang tua sebagai kepala rumah tangga  di keluarga juga mempunyai tanggung jawab, sehingga peran aktif masyarakat sangat diharapakn, “tandasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *