Sholat Idul AdhaPelaksanaan sholat Idul Adha 1435 Hijriyah , atau bertepatan dengan tahun 2014 tingkat Kabupaten Purbalingga yang diikuti oleh Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto, Wakil Bupati Purbalingga Tasdi, para pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kabupaten Purbalingga, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Purbalingga, Jajaran pejabat Pemkab beserta apar istri, serta masyarakat sekitar kota Purbalingga, berlangsung tertib dan aman. Pelaksanaan sholat di pusatkan di Masjid Agung Darusalam (MAD) Purbalingga, Minggu (5/10), dengan khotib KH. Muhammadun Lc, serta bertindak selaku imam KH Nurkholis Masrur.

Dalam khutbahnya, KH Muhammadun menyampaikan bahwa pelaksanaan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi taqwa umat manusia kepada Allah SWT. Setelah mengagungkan takbir, tahmid, sebagai pernyataan, serta pengakuan atas keagungannya, rangkaian ibadah tersebut bukan hanya sekedar gerakan tanpa arti.

“Akan tetapi ibadah tersebut, merupakan pengakuan hati yang tersentuh, dan ikrar dari relung jiwa  yang tergetar. Dengan panjatan doa tersebut, semoga semua dapat memancar keluar perilaku yang benar-benar mengagungkan Allah SWT,”pintanya.

Untuk itu, lanjut Muhammadun, umat diminta supaya menundukkan kepala, serta jiwa di hadapan Allah SWT Yang Maha Besar. Hilangkan jauh-jauh, sifat keangkuhan, serta kecongkakan yang hanya akan menjauhkan umat dari rahmat-NYA.

“Sebab apapun, kebesaran kita sandang, semuanya kecil di hadapan-NYA. Betapapun perkasanya kita, lemah dihadapan-NYA, betapapun hebatnya kekuasaan kita, tetaplah tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya,”tuturnya.

Idul Adha, sambungnya, dengan sebutan lain, “Hari Raya Haji”, dimana para kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di padang Arafah. Dengan pakaian yang dikenakan serba putih, serta tidak berjahit, hal tersebut melambangkan prinsip persamaan aqidah dan pandangan hidup, dan mempunyai tatanan nilai, yaitu nilai persamaan dalam bidang kehidupan. Hal tersebut tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Mereka sama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan-NYA.

“Dalam Quran Surat Al Najm ayat 32 menyebutkan, bahwa manusia tidak boleh menganggap dirinya yang paling bersih. Oleh karena itu janganlah kita menganggap diri kita yang paling bertaqwa, atau menganggap diri kita paling suci, dibanding lainya, baik dalam konteks pribadi, suku, kelompok masyarakat, organisasi, dan sebagainya,”pintanya.

Menururtnya, bukan tidak mungkin seorang budak belian, lebih bertaqwa daripada seorang mubaligh, atau ulama. Bahkan seorang pemulung mungkin akan lebih bertaqwa dari pada seorang guru sekalipun. Sebagai contoh, orang kecil menyumbang dengan nilai kecil, akan tetapi memberikannya dengan tulus ikhlas. Hal itu lebih taqwa dibandingkan menyumbang dengan nilai besar, tapi disertai dengan tendesi tendensi horizontal.

“Dengan begitu, sesame muslim untuk tidak saling mencaci, menghina, serta merendahkan, apalagi sampai mengkafirkan. Sedangkan sabda Nabi Muhammad disebutkan, bahwa barang siapa mengkafirkan orang Islam, pada hakikatnya dia sendiri telah kafir,”jelasnya.

Para Pemimpin, Diminta Berjuang Untuk Memakmurkan Masyarakat, Bangsa Dan Negara

Dalam mengakhiri khutbahnya, Muhammadun meminta, agar dengan perayaan Idul Adha para pemimpin untuk tergugah hatinya, agar mau berkorban bagi negeri Indonesia, yang tidak pernah luput di rundung kesusahan.

“Dalam kondisi  seperti sekarang ini kita harus banyak berharap, serta berdoa, mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi, ataupun kelompok. Akan tetapi dapat berjuang bagi kepentingan, serta kemakmuran masyarakat dan Negara. Kendati, perjuangan itu tidaklah mudah, serta memerlukan pengorbanan besar. Hanya orang-orang yang bertaqwa, yang sanggup melaksanakan perjuangan, dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya,”pungkasnya.