Haji Mabrur, Tidak Ada Sertifikatnya

Setiap Muslim sejatinya selalu merindukan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap ibadah hajinya adalah ibadah haji yang mabrur, yang diterima oleh Allah SWT. Baginda Rasulullah saw sendiri telah menyebut keutamaan haji mabrur.

“Sesungguhnya tanda ibadah haji diterima oleh Allah (haji mabrur) adalah yang menjadikan pelakunya meninggalkan berbagai maksiat, mengganti teman-temannya yang berperilaku buruk dengan orng-orang shalih, mengganti majelisnya yang penuh dengan sendau-gurau dan kelalaian dengan majelis yang dipenuhi dengan zikir dan kewaspadaan,”tutur H Munir Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Purbalingga, saat acara Penerimaan Kembali Jamaah Haji Kabupaten Purbalingga Tahun 1435 Hijriyah/2014, di Pendapa Dipokusumo, Kamis (20/11).

Dihadapan Bupati Purbalingga dan para pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kabupaten Purbalingga,Munir mengatakan, tanda mabrurnya seorang haji, tidak ada ijazahyna. Tetapi dapat dilihat dari amal perbuatanya ketika sudah pulang haji, salah satu tandanya adalah amalnya harus lebih baik lagi dari sebelumnya.

“Mabrur dan tidaknya seorang haji, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena title mabrur tidak ada ijazah/sertifikatnya, haji mabrur seperti pahala, hanya Allah yang maha tahu,”jelasnya.

Munir menambahkan, ciri lainya adalah niat dengan ikhlas, karena hal tersebut, hal yang paling mendasar dalam ibadah. Dengan niat yang ikhlas, adalah syarat diterimanya ibadah seseorang.

“Dalam menunaikan suatu ibadah, setiap muslim dituntut untuk ikhlas. Demikian pula dalam berhaji, seorang muslim diwajibkan untuk terbebas dari tujuan lain selain mendapatkan ridha Allah ta’ala. Dia tidak menghendaki pujian, popularitas ataupun gelar “pak haji” selepas dirinya berhaji,”katanya.

Disamping niat yang ikhlas, juga ditunaikan biaya digunakan biaya yang halal. Jika seorang pergi menunaikan haji dengan harta yang haram, seperti harta hasil korupsi,  riba, membohongi, untuk pergi haji, tidak akan diterima.

“Menunaikan haji  dengan harta yang haram merupakan haji  yang penuh dosa. Ora ketang karo biaya wahyu/sawaeh payu (haji dengan menjual tanah sawah), tapi yang penting halal,”ujarnya.

Menurutnya, haji yang mabrur, mampu memperbaiki akhlak, sehingga akhlaknya semakin bagus, perkataannya santun tidak menyakiti yang lain, pandai menjaga lisan, tutur katanya santun, senantiasa menyebarkan salam perdamaian, dimanapun berada.

“Seorang haji dalam berbicara adalah harus terkendali dan benar perkataannya.Salah satu indikasi lainya adalah meningkatnya kepedulian social dalam arti luas seperti memberikan bantuan kepada sesamanya. Memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan, baik yang meminta, maupun tidak. Saya minta para haji juga untuk ikut membantu pembangunan pemerintah, khususnya didalamkepedulian social, diantarnya ikut  mngentaskan kemiskinan, menyantuni fakir miskin, kaum dhuafa dan lain sebagainya,”pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *