PURBALINGGA_Kecamatan Karangjambu merupakan gudangnya kopi dan perajin sapu glagah.  Hampir semua stand memamerkan produk kopi dari desa masing-masing pada roadshow UMKM yang digelar di lapangan desa Karangjambu Kecamatan Karangjambu, Selasa (26/11).

Roadshow dimaksudkan untuk melihat secara langsung geliat UMKM dan produk lokal yang dihasilkan masing-masing kecamatan. Dan paling banyak adalah produk kopi, seperti kopi Kendil dari desa Sirandu, kopi Buana dari Danasari, Basih Kopi dari Purbasari, Tiga Putri dari Jingkang, dan Kobujang (Kopi BUbuk JambuKarang) dari Jingkang, semuanya sudah mulai dipasarkan di luar daerah.

“Banyak sekali potensi pertanian khususnya kopi, dan kopi-kopi dari Karangjambu semuanya ikut dalam Festival Kopi Purbalingga. Oleh karenanya tolong bapak kepala Dinas Pertanian agar nantinya kopi Karangjambu untuk bisa didampingi, baik dari hulu sampai hilir agar kopi Karangjambu dapat berkembang dan membanggakan nama Kecamatan Karangjambu dan Kabupaten Purbalingga, karena sudah banyak pecinta kopi,” tutur Bupati Tiwi.

Disamping kopi, produk unggulan Kecamatan Karangjambu berupa sapu glagah, sejumlah desa memproduksi sapu glagah seperti desa Jingkang dan Sirandu. Mereka menjual hasilnya berupa sapu glagah ke luar daerah utamanya ke Jakarta, bahkan sebagian perajin mengaku pernah mengekpor sapu glagah ke luar negeri seperti Korea dan Jepang. Bahan baku berupa glagah banyak ditanam oleh warga sekitar, sedangkan bambu untuk pegangan sapu dibeli dari petani bambu di wilayah Wonosobo.

Sementara salah satu perajin sapu glagah asal desa Sirandu Teguh menuturkan, dirinya menjadi perajin sapu merupakan usaha turun-temurun dari orangtua. Sudah lebih dari lima tahun dirinya menjadi perajin sapu glagah yang dijual ke wilayah Jakarta. Namun dengan masuknya pengusaha dari India yang memborong glagah sebagai bahan baku, membuat dirinya mengalami kesulitan. Bukan masalah langkanya glagah sebagai bahan baku, namun tingginya harga per kilo dari glagah sendiri.

“Saat ini banyak petani yang memiliki kebun glagah menjual hasil panennya kepada tengkulak. Bahkan penjualan dilakukan dengan “sistem ijon”. Oleh tengkulak glagah tersebut diekpor ke India dalam bentuk bahan baku. Sehingga harga bahan baku di lokalan menjadi mahal,” ungkap Teguh.Untuk bahan baku glagah sendiri hanya bisa dipanen satu tahun sekali. Satu kilogram glagah berkisar Rp 14.000 – Rp 15.000. Setiap kilo glagah mampu diproduksi 4-5 sapu. Sedangkan bahan baku lainnya berupa bambu untuk gagang (pegangan) sapu  dikirim dari Wonosobo. (u_humnpro)