PURBALINGGA – Guna menghambat pemburukan kondisi kesehatan penderita HIV/AIDS pada Odha, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan kedisiplinan pemberian obat Antiretroviral (ARV). Oleh karenannya keterjangkauan pelayanan ARV ini harus dipermudah, agar Odha tidak terputus/ drop out dalam mengkonsumsinya.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Purbalingga, Heny Ruslanto dalam kegiatan Evaluasi dan Sinkronisasi Program Penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Purbalingga, Rabu (9/10) di Ruang Ardi Lawet Setda. “Kuncinya mendekatkan layanan ARV dari Pukesmas ke Odha, jangan sampai (misalnya) jauh-jauh dari Sirau ke RS Goeteng sehingga banyak memakan waktu dan biaya,” katanya di hadapan para Kepala OPD, Kepala Puskesmas dan Camat.

Disamping butuh pelayanan prima pemberian obat ARV, juga dibutuhkan kesadaran dari Odha akan pentingnya obat tersebut. Heny juga menekankan pentingnya keterbukaan bagi mereka yang terkena HIV/AIDS untuk melaporkan diri ke Rumah Sakit, sehingga penanggulangan dan pencegahan penularan di kemudian hari bisa segera dilakukan.

“Dari Odha yang ada, baru ada 41,2% saja yang aktif mengkonsumsi ARV. Sisanya tidak, belum atau bahkan drop out,” katanya.

Heny mencatat di Purbalingga secara komulatif sejak tahun 2010 hingga September 2019 terdapat 437 temuan kasus HIV/Aids, 305 diantaranya HIV, 94 AIDS, ditambah Odha mutasi dari RSUD Margono Soekarjo ke RSUD Goeteng Taroenadibrata sebanyak 38. Sebelumnya juga diketahui sebanyak 146 Odha telah meninggal.

“Estimasi dari Kemenkes Odha di Purbalingga jumlahnya ada 1456, ini yang harus kita ungkap” katanya.

Setelah adanya Peraturan Daerah No 9 tahun 2018 tentang Penanggulangan AIDS dan Perbup No 50 tahun 2019 sebagai payung hukum diharapkan upaya upaya pencegahan sudah mulai dilaksanakan dengan disiplin. Dimulai dari kewajiban tes HIV/VCT bagi calon pengantin oleh pihak Kantor Kementerian Agama.

“Calon pengantin harus dan wajib cek HIV!. Dari Kemenag ini jangan sekedar mengkawinkan saja tapi juga mengarahkan calon pengantin ke Puskesmas (untuk VCT). Bukan maksud untuk menggagalkan pernikahan tapi untuk kesehatan keturunannya. Kalau salah satu ada yang positif nanti akan diberitahu cara penanganannya. Kalau positif dua-duanya pun juga kami punya program agar anaknya negatif semua,” katanya.

Sementara itu Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM menyampaikan guna menanggulangai persoalan HIV/AIDS di tingkat bawah, telah terbantu adanya Warga Peduli Aids (WPA) di 187 desa dari 224. Ia berharap awal 2020 semua desa sudah ada WPA.

“Sehingga melalui mereka masyarakat akan pahan, tahu apa itu HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan. Masyarakat juga perlu diedukasi untuk tidak mengucilkan Odha karena penularan tidak dari interaksi sosial,” katanya.

Bupati juga menyampaikan terimakasih kepada para mitra KPAD yang telah turut peduli kepada para Odha, baik dari Baznas, Puskesmas, lembaga lainnya ataupun perseorangan,yeng telah memberikan dorongan bantuan permodalan ataupun bantuan karitatif lainnya.

“Untuk balita Odha saya minta untuk menjadi penerima tetap PMT (Pemberian Makanan Tambahan) terutama untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, karena mereka tidak boleh menyusu dari ASI ibunya,” katanya.(Gn/Humas)