Pawai Budaya Purbalingga, Dari Lengger Lanang hingga Kupyak Kali

tari kupyak kali-SMAN 2 Purbalingga

 

 

 

 

 

 

Rangkaian peringatan hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke 184 ditutup dengan Pawai Budaya, Selasa (23/12) siang. Pawai tersebut menampilkan aneka seni tradisional Purbalingganserta budaya unik dari  sejumlah kabupaten di Jateng bagian Selatan.  Tercatat ada 62 grup yang tampil memukau ribuan pengunjung di sepanjang Jalan Jenderal Soedirman Barat hingga alun-alun kota setempat.

Nuansa seni khas asal Purbalingga dan Banyumas mendominasi pawai budaya tersebut. Seni Lengger dengan penampilan lengger lanang (Lenang) tampil membuat penonton tertawa diakhir penampilannya. Selain itu, kehidupan masyarakat Purbalingga seperti bertani, menderes, menangkap ikan,  hingga sikap warga Purbalingga yang Blakasuta (apa adanya) juga disuguhkan dan dikemas dalam nuansa tarian yang apik dan menarik.

Bupati Sukento Rido Marhaendrianto menyatakan, dirinya puas dengan pawai budaya kali ini. Sukento bahkan memberi nilai 99 untuk kegiatan ini. “Pawai budaya ini ternyata mampu mengangkat seni tradisi local yang hamper punah, saya puas dengan penampilan semua grup. Mudah-mudahan pawai yang bisa menghibur masyarakat dapat dilaksanakan kembali tahun depan,” ujar Sukento.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Pariwisata pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Drs Sri Kuncoro  mengungkapkan, pawai budaya dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak masyarakat untuk mengembangkan karya kreativitasnya dibidang kebudayaan sebagai salah satu cirri kehidupan masyarakat Purbalingga yang dikenal semangat, ceria, lugu serta cablaka (blakasuta) atau apa adanya. “Pawai budaya ini juga mendukung kunjungan wisatawan ke Purbalingga,” kata Sri Kuncoro.

Kuncoro menambahkan, penampilan setiap peserta dipantau oleh dewan pengamat yang difokuskan para koreografi, kekompakan, penampilan dan kostum serta property. Untuk memberikan semangat, panitia juga memberikan hadiah kepada enam juara berupa sapid an kambing. Setiap regu juga mendapat bantuan uang pembinaan serta bantuan transport. “Penampilan para peserta ternyata luar biasa, sejumlah seni tradisi yang nyaris punah seperti Rodat, Dames, dan Daeng Paksi Muda, mampu ditampilkan apik dan menarik,” tambah Sri Kuncoro.

Pawai budaya diawali dengan laporan Suba Manggala yang diperankan oleh Drs Subeno, MHY, Staf Ahli Bupati Bidang Sumberdaya Manusia kepada bupati Sukento Rido. Dibelakanganya tampil kelompok pembawa lambing daerah, kemudian barisan prajurit Kraton Surakarta yang berjumlah 20 orang. Pasukan pembawa dua buah gunungan berisi sayuran dan hasil pertanian bersigap dan meletakan gunungan tersebut di kanan kiri podium tamu undangan. Gunungan ini menjadi rebutan masyarakat usai acara ditutup.

Penampilan Batik Carnival dari perajin batik Sokaraja Banyumas juga ikut membuat decak kagum penonton. Penampilan lainnya yang tak kalah menarik seperti tari Bungah (SMKN 3 Banyumas), kuda Kepang yang telah direvitalisasi dari Kecamatan Kalimanah juga membuat penonton berdecak kagum. Penampilan lain, nuansa kenthongan tak lepas dari pawai budaya kali ini. Dengan modifikasi yang berbeda-beda, kenthongan tetap menarik dan unik dinikmati.

Kreasi tari dan budaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat juga apik untuk dinikmati. Seperti tarian Parak Iwak (Kemangkon), Gethek Kali Klawing (SMPN  1 Bojongsari), Bokoran, tradisi tujuh bulan bagi ibu hamil, tari Lengger, Nitis (nderes) yang dibawakan SMKN 1 Purbalingga, kemudian Sapu-sapu (Sanggar tari Citra Budaya), Blakasuta (SMAN 1 kemangkon), Begalan dan sejumlah tarian lain yang menarik.  Penampilan Lengger Lanang (Lenang) dari Kecamatan Kota juga sempat mengocok perut penonton. Para penari yang lemah gemulai semula diyakini sebagai wanita, namun usai menari mereka justru membuka rambut palsunya (wig) yang membuat penonton tertawa. Tarian Kupyak Kali yang dibawakan siswa SMAN 2 Purbalingga juga cukup menarik ditonton. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat disepanjang Sungai Klawing yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Sungai Klawing belakangan ini naik daun dengan batu nogosui dan pancawarna yang mulai diburu para penggemarnya.

Penampilan seni dari sejumlah kabupaten juga semakin melengkapi pawai budaya yang mengambil tema ‘Melalui Pawai Budaya, Kita Lestarikan Seni Tradisi’ ini. Penampilan dari kabupaten tetangga tersebut seperti Dolalak (Purworejo), tari Topeng Hitam (Magelang), Tari Tuk Bimo Lukar (Wonosobo), Seni Buroq (Kabupaten Brebes), Pelangi Diatas Serayu (Banjarnegara), dan tari Buncisan (Banyumas)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *