Pembangunan Akhlak Harus Menyeluruh

Untuk membangun/mewujudkan generasi yang sholeh, cerdas secara intelektualemosional dan spiritual. Pembangunan akhlak generasi muda  haruslah menyeluruh. Sampai saat ini, kenakalan remaja masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk mengatasinya.

“Kkenakalan remaja sampai saat menjadi tantangan bersama untuk mengatasinya. Karena kenakalan remaja bukan hanya diakibatkan oleh generasi muda semata. Akan tetapi, orang tua juga punya andil yang besar dalam membentuk akhlak anak-anaknya,”terang Bupati Purbalingga, saat membuka acara Pelatihan Ustadz/Ustadzah, Pengasuh Dan Pendidik Anak (Puspa) Angkatan Ke-5 Tahun 2015 Se-Kabupaten Purbalingga di Pendapa Dipokusumo, Minggu (8/3).

Hal tersebut, sambung Kento, memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak, terutama peran orang tua, guru baik di tingkat pendidikan umum, maupun di lembaga pendidikan keagamaan seperti taman pendidikan alquran (TPQ), madrasah diniyah (Madin). Karena untuk membangun generasi muda yang berkhlak baik/mulia, serta mengurangi kenakalan remaja diperlukan pembangunan akhlak yang menyeluruh.

“Di lembaga pemasyarakatan (Lapas), kebanyakan dari penghuninya adalah bapak-bapak/laki-laki. Mulai dari pengguna narkoba dan pecandu minuman dan kriminal lainya adalah rata-rata kaum laki-laki, sehingga apa yang dilakukan orang tua, akan berpengaruh terhadap  anak-anak/generasi muda. Untuk itu, pembangunan  akhlak  harus dilakukan  secara menyeluruh. Metode /tata cara pembinaan anak sekarang ini juga sudah semakin banyak dan semakin baik, terutama bagaimana metode untuk belajar agar  anak belajar dengan senang hati,”tuturnya.

Untuk itu, tambah Kento, pengasuh dan pendidik harus memahami hakikat pendidikan anak, sehingga tujuan mewujudkan generasi yang sholeh, cerdas intelektual,   emosional, serta cerdas spiritual dapat tercapai.

“Untuk itu, saya menyambut baik pelatihan ini. Dan berharap agar peserta dapat menyerap semua ilmu dengan sebaik-baiknya. Sehingga setelah pelatihan dapat langsung dipraktekan, jangan sampai ilmu hanya sebatas  ilmu yang tidak diamalkan. Karena ilmu akan lebih menguat dan  bermanfaat jika langsung diaplikasikan,”terangnya.

Panitia Pelatihan Ustadz/Ustadzah, Pengasuh Dan Pendidik Anak (Puspa) Angkatan Ke-5 Tahun 2015 Se-Kabupaten Purbalingga Mutohir mengatakan kegiatan pelatihan tersebut diselenggarakan untuk yang  yang kelima kalinya di Kabupaten Purbalingga. Sedangkan kegiatan tersebut berawal dari kepedulian aktifis TPQ kala itu, tentang pentingnya komunikasi antar pembina TPQ

“Sehingga pada 17 Juli 1997 terbentuklah TPQ di tingkat kecamatan. Karena seringnya mengadakan pelatihan tingkat kabupaten yang diikuti pembina TPQ , guru, TK RA/BA  MI dan pecinta anak, saat ini organisasinya diubah menjadi  forum komunikasi  taman pendidikan alquran (FKTPQ),”tuturnya.

Seiring berjalanya waktu sambung Tohir, pada tahun 2001pihaknya mendirikan yayasan Peduli Santri Sholeh Purbalingga yang  berbadan hukum. Kegiatan semakin luas, bukan hanya pelatihan Pembina TPQ saja, akan tetapi juga melakukan kegiatan sosial.

“Beberapa kegiatan sosial kamin lakukan dengan merehabilitasi rumah warga kurang mampu di beberapa desa di Kecamatan Kaligondang. Selain itu, kami juga melakukan kegiatan bazaar untuk menopang keberadaan yayasan kami. Selain itu, kami juga membina santri khusus untuk manula santrinya berjumlah, 40 orang dan  sudah  mengenal baca tulis Alquran, kini mereka sudah mampu mengkhatam/penghafal  Alquran,”terangnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *