PURBALINGGA-DINKOMINFO, Walaupun Alm KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur wafat, namun pemikiran dan gagasan ajaranya masih tetap eksis mengikuti perkembangan zaman. Para pengikut pemikiran dan ajaran-ajarannya inilah yang kemudian melestarikan dan mengamalkannya yang kemudian disebut Gusdurian.

“Saya minta Gusdurian harus paham, dan tidak hanya paham saja namun juga bisa membumikan sembilan ajaran Gus Dur & memberikan pencerahan bagi ummat Islam dan ummat lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Bupati Tasdi saat memberikan sambutan saat acara Silaturrahmi Tokoh Purbalingga dengan Mba Alissa anak dari Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI Ke-4-red).

Ada sembilan ajaran Gus Dur yang disampaikan saat masih hidup kepada masyarakat (ummat Islam) yaitu; ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan, persaudaraan, kesederhanaan, kesantrinan dan kearifan lokal. Ajaran-ajaran tersebut sampai dengan saat ini masih bisa dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang serba komplek.

Ditengah kehidupan yang majemuk dengan masyarakat yang multikultural baik suku, agama, ras dan antargolongan, maka kita diminta untuk dapat merawat kebhinekaan, merawat persaudaraan dan kebebasan dalam bingkai Negara Kesatuan RI.

Perkembangan Iptek di era globalisasi begitu cepatnya dengan ditandai kemajuan dibidang informasi dan komunikasi akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian suatu negara. Untuk menjaga itu semua, maka perlu diperkuat Empat Pilar Kebangsaan yaitu; Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Bupati Tasdi juga meminta agar kita tidak hanya sebatas menimba ilmu dan berdiskusi saja dengan Mba Alissa tapi juga, kita bisa berbuat dan berbuat apa yang kita bisa buat untuk kemajuan NKRI. Untuk itu kita semuanya diminta meningatkan Ukhuwah Wathoniah antar ummat suku bangsa di Indonesia, jangan sampai bercerai berai.

Sementara itu Mba Alissa selaku koordinator Nasional Gusdurian menyampaikan bahwa saat ini masyarakat kita sedang bergairah; bergairah memikirkan diri sendiri, bergairah memikirkan kelompoknya sendiri maupun bergairah memikirkan orang lain baik sebagai kawan/lawan. “Masa depan Purbalingga kedepannya pasti lebih baik,”ungkapnya sambil memprediksi Purbalingga kedepannya dihadapan para Gusdurian dan peserta Silaturrahmi.    

Saat ini tuturnya banyak orang yang merasa cemas akan masa depan Indonesia, salah satunya karena kita bangsa yang majemuk/pluralis, sehingga sangat rentan terhadap perpecahan. Untuk itu alasan terbentuknya Indonesia adalah karena keberagaman. “Tanpa keberagaman tidak perlu ada Indonesia,” pungkasnya mengakhiri ceramah.(PI-3/PI-5/PI-9)