Purbalingga Galakan Gerakan PSN

Meski sudah dilakukan berbagai upaya pencegahan terhadap penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), namun jumlah kasus BDB di Purbalingga masih tergolong tinggi. Pada 2014 ini, sedikitnya telah terjadi 543 kasus DBD yang tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Purbalingga. Jumlah ini meningkat dibanding kasus DBD 2013 yang hanya tercatat sebanyak 441 kejadian.

“Butuh gerakan dahsyat dalam mencegah dan menanggulangi tingginya kasus demam berdarah di Purbalingga. Saya ingin program 1 jam setiap minggu menjadi suatu gerakan yang dilakukan seluruh masyarakat di Purbalingga,” ungkap Bupati Sukento Rido Marhaendrianto saat menghadiri sosialisasi Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Operation Room Graha Adiguna, Rabu (8/10).

Menurut Bupati, untuk mencegah terjangkitnya Demam Berdarah bukan hal yang sulit. Hanya butuh kesadaran seluruh masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungannya. Bupati mengajak seluruh steakholder untuk bersama-sama menggerakan program ini sehingga Purbalingga bebas dari Demam Berdarah.

“Dulu ada program dimana tiap RT (Rukun Tetangga-red) menggerakan warganya untuk melakukan kerja bhakti pemberantasan sarang nyamuk setiap hari Minggu. Ini bukan pekerjaan sulit dan merupakan amal ibadah jika dilakukan dengan iklas. Nanti kita acarakan tersendiri pencanangannya,” tandasnya.

Kepala DKK Purbalingga dr Nonot Mulyono menuturkan, penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Bila tidak ada nyamuk Aedes di Purbalingga, maka tidak akan ada DB di Purbalingga. Bila rantai kembang biak nyamuk diputus, maka tidak akan ada nyamuk Aedes di Purbalingga.

“Kita harus menyamakan alur pikir ini, agar semua orang bergerak bersama-sama dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk yang berarti juga memutus rantai kembang biak nyamuk. Bila semua orang memberantas sarang nyamuk, maka tak akan ada DB di Purbalingga,” jelas Nonot.

Menurut Nonot, kesadaran masyarakat dalam melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk menjadi kunci keberhasilan Purbalingga bebas DBD. PSN dengan konsep 3M Plus, lanjut Nonot, menjadi hal yang mendesak dilakukan. Selain murah, mudah dan cepat, PSN hanya membutuhkan waktu 1 jam saja dalam setiap Minggu.

“Ada anggapan keliru dari masyarakat yang menuntut dilakukan fogging untuk mencegah penyebaran DB. Padahal fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membunuh telur, jentik dan kepompong. Yang juga harus dilakukan adalah PSN setiap Minggu karena siklus hidup nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk berkisar 10 hari,” katanya.

Dia menandaskan, penyemprotan atau fogging akan dilakukan Dinas dengan sejumlah indicator. Yakni jika ada 1 orang penderita dengan riwayat penularan di lingkungan sekitar, kemudian ditemukan jentik Aedes lebih dari 5 persen di suatu wilayah dan ada penderita DB yang meninggal dunia.

“Indikator itu harus disertai hasil pemeriksaan medis dan pantauan yang dilakukan petugas kesehatan. Kalau baru perkiraan kami sulit untuk memenuhi permintaan fogging dari masyarakat,” tandasnya.

Sejauh ini, tambahnya, sudah ada beberapa masyarakat yang mengajukan fogging termasuk dikomplek  perumahan polri, dimana sudah ada 8 anggota yang tertular DB.

Dari data yang ada, distribusi penderita DBD terbanyak terdapat di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Kalimanah, Padamara dan Purbalingga. Sedangkan wilayah yang paling sedikit tertular DBD adalah wilayah Kecamatan Karangjambu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *