PURBALINGGA- Semua orang yang telah menikah dan memiliki anak pastilah menginginkan anaknya menjadi anak shalih. Karena anak yang akan menjadi penyebab bagi orang tua untuk terus mendapatkan manfaat lewat do’a dan amalannya, walaupun orangtua telah tiada. Memiliki anak shalih, kita semua dapat meneladani kehidupan Nabi Ibrahim A.S dan keluarganya bagaimana mencetak anak setegar dan setaat Ismail A.S ketika melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala seperti dilukiskan dalam satu rangkumanayat di dalam Al Qur’an. Rangkuman ayat Al Qur’an tersebut melukiskan bagaimana sang ayah Nabi Ibrahim A.S mendidik dan membina hubungan baik dengan putranya Ismail A.S yang ditata dalam suatu ikatan batin kasih sayang, ketaatan dan kepatuhan.

“Setiap kali kita merayakan Ied Adha, pasti kita akan kembali mengenang sejarah peristiwa berqurban yang telah dilakoni oleh dua hamba Allah yang ikhlas melaksanakan perintah dimana Nabi Ibrahim A.S ditugaskan untuk mengurbankan putra kesayangannya Ismail A.S,” demikian disampaikan HM Sukarman SAg selaku khotib dalam khutbahnya mengambil hikmah dari peristiwa qurban pada pelaksanaan shalat Ied Adha di alun-alun Purbalingga, Minggu (11/8).

Selanjutnya HM Sukarman sampaikan kiat untuk memiliki anak shalih seperti yang diharapkan dengan tiga faktor yakni do’a, memperbaiki diri dan menanamkan pendidikan agama sejak dini kepada anak. Sukarman katakan, tujuan mendapatkan anak shalih bisa terwujud dengan do’a karena keshalihan didapati dengan taufik (pertolongan) dan petunjuk Allah. Karena hidayah di tangan Allah, maka tentunya kita harus banyak memohon kepada-Nya. Faktor kedua apabila menginginkan anak shalih adalah orang tua hendaknya memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu karena keshalihan orang tua berpengaruh pada anak.

Sedangkan faktor ketiga adalah menanamkan pendidikan agama sejak dini pada anak. Sebagaimana telah disebutkan dalam satu tafsir Al Qur’an bahwa tentang mengajarkan adab dan shalat yang diperintahkan diajak dan diajarkan sejak dini. Anak juga wajib diajarkan menjauhi perkara haram, berbohong dan berbuat tercela lainnya. Apabila orang tua tidak bisa mengajarkannya karena kurang ilmu, sudah sepatutnya anak diajak untuk dididik di Taman Pembelajaran Al Qur’an (TPQ), Madrasah atau pesantren di luar waktu sekolahnya.

“Tiga faktor tersebut adalah salah satu dari sekian banyak cara agar perilaku anak sesuai dengan yang kita harapkan sebagaimana kisah Ismail A.S. Orang tua diwajibkan ikhtiar dengan ikhtiar nyata dan tak terputusnya do’a karena hidayah hanya ada padaAllah subhanahu wa ta’ala,” kata Sukarman.

Shal Ied Adha diikuti Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon beserta keluarga, Forkopimda Purbalingga, Sekretaris Daerah Wahyu Kontardi SH beserta seluruh pejabat dan ASN Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan masyarakat dengan imam shalat KH Roghib Abdurrahman. Dalam sambutannya, Bupati Dyah H Pratiwi menyampaikan, momentum hari raya Idul Adha mengingatkan untuk  meneladani apa yang telah Nabi Ibrahim A.S dan Ismail A.S lakukan yakni ketaatan melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala.

“Idul Adha mengajarkan kita ketakwaan, ketaatan kepada Allah seperti teladan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Semoga dalam melaksanakan perintah-Nya hendaknya senantiasa disertai ikhlas dan semoga kita semua mendapatkan pertolongan dan petunjuk dari Allah,” kata Bupati Dyah H Pratiwi. (t/humpro2019)