Hari IBU

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan upacara peringatan Hari Ibu ke-86 Tingkat Kabupaten  Purbalingga di Pendapa Dipokusumo Selasa (30/12) berjalan tertib dan khidmat. Upacara dipimpin langsung Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto, diikuti para Pimpinan Forum Koordinasi Pimpina Daerah (FKPD) Kabupaten Purbalingga, para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), ketua/anggota gerakan organisasi wanita (GOW) dan unsur  masyarakat.

Diawali dengan pembacaan sejarah singkat Hari Ibu, bahwa  gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya pada tanggal 28 Oktober 1928 yang digelorakan dalam Konggres Pemuda Indonesia. Hal tersebut menggugah semangat para pemimpin perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri. Pada saat itu, sebagaian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.

Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan, pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarkan konggres perempuan Indonesia yang pertama dan membentuk Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPI). Pada tahun 1929 PPI juga menggelar konggres yang kedua, dan pada konggres ketiga tahun 1938 menyatakan, bahwa pada tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Selanjutnya dikukuhkan oleh Pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959.

Usai pembacaan sejarah singkat Bupati Purbalingga dalam sambutannya yang menyitir perkataan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama mengatakan, bahwa seorang wanita  disebut sempurna ketika dia menjadi seorang  ibu, isteri dan juga seorang kawan seperjuangan.

“Tiga sifat atau hal yang dituntut dari seorang wanita sejati adalah, bahwa wanita sejati adalah dia sebagai seorang  ibu, ya isteri, ya kawan seperjuangan. Jikalau wanita bisa mengumpulkan tigal ini, baru dapat disebut wanita sempurna,”tuturnya.

Menurutnya, dari apa yang disampaikan Bung Karno tersebut dapat dipahami, bahwa tugas seorang perempuan sangatlah berat. Apalagi perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Sudah sepantasnya, kaum laki-laki menghargai perempuan, suami menghargai istrinya dan anak-anak menghargai ibunya.

“Disamping itu perempuan tetap harus menunjukan aktualisasi diri/ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Selain itu, kemampuan dan ketrampilan yang Tuhan anugerahkan kepadanya diminta dapat ditunjukkan.Namun di sisi lain, perempuan juga harus memahami kodratnya sebagai isteri, ibu dan anggota masyarakat,”tuturnya.

Seiring dengan peran seorang perempuan yang semakin besar, Sukento juga mengungkapkan keprihatinannya dengan fenomena “Pamong Praja” atau istilah papa momong, mama kerja.

“Hal ini menjadi keprihantinan tersendiri, karena ini menggambarkan fenomena, bahwa perempuan di Purbalingga mayoritas adalah perempuan yang bekerja di luar rumah,”jelasnya.

Sukento menambahkan, kondisi seperti ini  sering dikaitkna dengan tingginya kasus perceraian, kenakalan remaj dan sebagainya. Untuk itu, kaum laki-laki diharapkan memahami kodratnya untuk mencari nafkah dan tetap menghargai istri.

“Meski demikian, kaum perempuan walaupun bekerja untuk ikut menopang kebutuhan rumah tangganya, juga harus tetap menghargai suaminya. Baik suami ataupun istri juga harus saling bekerja sama dalam pengasuhan anak,”pintanya.